Kategori Manhaj

Salafiyyun Menepis Tuduhan Dusta

Senin, 12 Oktober 2009 22:23:31 WIB

SALAFIYYUN MENEPIS TUDUHAN DUSTA

Oleh
Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid al Halabi al Atsari –hafizhahullah-



Betapa banyak tuduhan para hizbiyun yang diarahkan kepada Salafiyyun. Di antaranya telah diungkap dan dijawab oleh Fadhilatusy-Syaikh Ali bin Hasan al Halabi al Atsari –hafizhahumallahu Ta'ala- ketika menyampaikan muhadharah di hadapan kaum Muslimin di Masjid Islamic Center Jakarta, hari Ahad, 23 Muharram 1428H, bertepatan dengan 11 Februari 2007M.

Syubhat dan tuduhan dusta tersebut, ingin menampakkan bahwa ad-da'wah as-Salafiyyah sarat dengan fanatisme golongan, hanya berkutat dengan kepentingannya sendiri, dan kurang peduli dengan permasalahan ummat. Tentu saja, ini hanyalah tuduhan dusta belaka. Bagaimana menjawab dan menepis tuduhan-tuduhan tak berdasar tersebut?

Berikut adalah penjelasan Fadhilatusy-Syaikh Ali bin Hasan al Halabi al Atsari –hafizhahumallahu Ta'ala-

Anda telah mendengarkan bersama, untaian kalimat[1] yang mengandung penjelasan seputar ad-da'wah as-Salafiyah, ajaran-ajaran pokoknya yang ilmiah, yang berkaitan dengan aqidah dan manhaj (metode memahami agama). (Anda semua telah mendengarkan), seluruh penjelasannya ternyata sangat berkaitan dengan "qalallah" (Allah berfirman) dan "qala Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam" (Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda). Jauh dari segala opini pribadi, perkataan manusia, prediksi, dan prasangka. Dakwah seperti inilah yang benar-benar warisan ajaran kenabian. Dakwah seperti inilah yang benar-benar layak, pantas dan berhak dibawa oleh umat, dan diwariskan dari generasi ke generasi, sejak generasi pertama umat ini yang terang-benderang, hingga saat ini, dan hingga Allah menghendaki konsistensi dakwah ini tetap berlangsung.

Ad-da'wah as-Salafiyah adalah dakwah Islam. Dakwah ini murni, tanpa tambahan-tambahan, hiasan-hiasan, atau dekorasi-dekorasi. Ad-da'wah as-Salafiyah adalah dakwah menuju al Qur`an dan as-Sunnah dengan pemahaman salaful-ummah (generasi terdahulu yang shalih). Jika hanya satu sifat ini saja yang disampaikan kepada setiap orang yang berakal dan berpikir, pastilah sudah cukup, tanpa perlu penjelasan lebih lanjut yang berkepanjangan.

SEBAB-SEBAB MUNCULNYA TUDUHAN DUSTA
Akan tetapi, kita hidup pada zaman yang sulit, penuh kerusakan dan fitnah. Kita hidup pada zaman yang orang-orangnya hidup dengan penuh kontradiksi, kecuali insan-insan yang Allah berikan rahmat-Nya kepadanya (yang akan terlindung dari fitnah ini). Kontradiksi, yang kini sebagian orang dari umat ini sudah terbiasa bergaul dan hidup dengannya, telah menjerumuskan mereka ke dalam ketidakpahaman. Bahkan menjerumuskan ke dalam pemahaman yang keliru dan terbalik. Karena, apabila ketidakpahaman sebagai suatu kesalahan yang ringan, maka pemahaman yang keliru dan terbalik adalah kesalahan yang berlipat ganda dan fatal. Akhirnya, jatuhlah manusia ke dalam kejahilan (kebodohan), yang pada hakikatnya berasal dari diri mereka sendiri. Namun, kemudian mereka putar-balikkan, mereka tuduhkan dan mereka lontarkan kepada orang lain.

Mereka menuduh dengan sekian banyak tuduhan (dusta) kepada dakwah al Qur`an dan as-Sunnah ini. Mereka melontarkan sekian banyak syubhat (kerancuan-kerancuan) kepada dakwah al Qur`an dan as-Sunnah ini. Namun, jika kita perhatikan dan teliti lebih dalam, ternyata tuduhan-tuduhan dan lontaran-lontaran dusta tersebut tidak berarti sama sekali. Bahkan tidak ada hakikatnya sama sekali. Seluruhnya serba terbalik dan berbalik (kepada mereka sendiri), bagaikan kaca yang pecah dan hancur berantakan.

MENUDUH ADALAH "LAGU LAMA" ORANG-ORANG BODOH DAN MENYIMPANG
Pintu tuduhan dan lontaran syubhat merupakan pintu yang sudah lama dan usang. Pintu ini sudah sering menimpa orang-orang yang konsisten dengan al Haq (kebenaran). Jarang di antara mereka yang selamat dari tuduhan ini. Bahkan Rabbul 'Alamin (Allah) l pun terkena tuduhan-tuduhan dusta, dan hanya bagi-Nya segala perumpamaan yang Maha Tinggi. Allah pun dituduh tanpa haq sama sekali! Hingga Allah menurunkan ayat-ayat yang banyak untuk membantah orang-orang bodoh yang dipenuhi dengan syubhat. Orang-orang bodoh itu tidak menghargai dan tidak mengagungkan Allah dengan sebenar-benar penghargaan dan pengagungan. Seperti firman-Nya:

"Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." [Al Ikhlash/112:1-4]

Sebagai bantahan kepada orang-orang bodoh yang berkata bahwa Allah memiliki anak. Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pun dituduh. Beliau dituduh sebagai seorang penyair. Allah pun turunkan ayat untuk membantah tuduhan tersebut.

Allah berfirman:

"Dan al Qur`an itu bukanlah perkataan seorang penyair, . . ." [Al Haqqah/69:41].

Para sahabat Radhiyallahu 'anhum juga dituduh. Mereka dituduh, bahwa mereka merebut kekuasaan dan kepemimpinan. Mereka dituduh dengan tanpa haq. Dan begitulah seterusnya! Mereka (para sahabat) dan orang-orang yang berpegang teguh dengan al Haq terus dituduh dan dituduh.

Lihatlah kaum Nuh Alaihissalam ! Mereka menuduh Nabi mereka. Padahal ia telah tinggal dan hidup bersama mereka dalam waktu yang sangat lama, namun, ia tetap tidak selamat dari tuduhan. Mereka menuduhnya tatkala sudah tidak mampu lagi mengungkapkan dan mengemukakan hujjah, dalil, dan bukti kepada Nabi Nuh Alaihissalam. Bagaimana firman Allah tentang mereka? Allah berfirman:

"Mereka berkata; "Hai Nuh! Sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami adzab yang kamu ancamkan kepada kami! Jika kamu termasuk orang-orang yang benar". [Hud/11:32].

Mereka melontarkan tuduhan-tuduhan kepadanya. Mereka menuduh nuh sebagai tukang jidal (bantah). Padahal (mereka mengetahui), bahwa Nuh menyampaikan al Haq, berbicara dengan yang haq, dan tidaklah ia berpegang teguh kecuali dengan al Haq, karena ia seorang Nabi! Namun betapapun demikian, orang-orang yang menyelisihi al Haq tetap tidak mau tunduk dan patuh. Bahkan mereka semakin membangkang, mengejek, mencemooh, dan mendustakan. (Akhirnya) mereka pun semakin jauh terperosok ke dalam syubhat, dan semakin gencar melontarkan syubhat.

SYUBHAT BERSUMBER DARI DUA PENYAKIT BERBAHAYA
Tuduhan-tuduhan yang dilontarkan dengan dibalut pakaian syubhat ini bersumber dari dua penyakit kronis yang telah menyerang para pelakunya.

Penyakit pertama, ialah sedikitnya ilmu. Seandainya pada diri mereka terdapat ilmu, bukti, dan penjelasan yang benar, tentulah al haq dan al huda (petunjuk) itu dapat langsung dikenal dengan mudah dari para da'i dan orang yang berpegang teguh dengannya. Namun, sayangnya mereka bagaikan perumpamaan Arab عَنْزَةٌ وَلَوْ طَارَتْ (dia tetap seekor kambing walaupun terbang). Mereka - memaksakan diri- ingin memunculkan segala sesuatu yang ada dalam pikiran-pikiran dan kepala-kepala mereka, walaupun dengan syubhat yang paling lemah sekalipun, dan meskipun dengan sebab yang paling remeh sekalipun.

Penyakit kedua, yaitu lemah dan tipisnya agama. Seandainya agama mereka kokoh dan kuat, tentulah tidak akan tergesa-gesa melontarkan tuduhan-tuduhan yang mereka bangun berdasarkan prasangka, ketidakpastian dan tanpa ilmu. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda:

...وَمَنْ قَالَ فِيْ مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيْهِ، أَسْكَنَهُ اللهُ رَدْغَةَ الْخَبَالِ، حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ .

… Dan barangsiapa yang berkata kepada seorang mukmin sesuatu yang tidak ada padanya, Allah akan tempatkan dia di radghatul-khabal, sampai ia keluar dari apa yang ia ucapkan [2]. Dan radghatul-khabal (رَدْغَةُ الْخَبَالِ) adalah cairan (perasan) para penghuni neraka.

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:

((إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ...)).

Waspadalah kalian dari berprasangka, karena sesungguhnya prasangka itu sedusta-dusta perkataan…. [3]

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ .

Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya, seperti ia mencintai untuk dirinya sendiri. [4]

Seandainya pada diri mereka terdapat ilmu yang cukup dan keimanan yang melindungi (mereka dari perbuataan tercela ini, Red.), tentulah mereka tidak akan berani menyelami samudera tuduhan, fitnah, celaan, dan syubhat yang memecah-belah umat ini, di saat mereka mengira dan menyangka bahwa ad-da'wah as-Salafiyah adalah dakwah yang memecah-belah umat. Inilah salah satu syubhat dari beragam syubhat mereka, yang akan datang bantahan dan jawabannya, insya Allah Ta'ala.

NASIHAT AL IMAM IBNUL QAYYIM DALAM MENGHADAPI SYUBHAT
Sebelum saya (Syaikh Ali bin Hasan -hafizhahullah-) memulai menyebutkan syubhat-syubhat dan bantahannya, maka saya persembahkan untuk seluruh saudara-saudaraku, seuntai kalimat dan nasihat yang diucapkan oleh al Imam Ibnul Qayyim, yang beliau dapatkan dan nukilkan dari Syaikh-nya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Al Imam Ibnul Qayyim -dalam kitabnya Miftahu Daris-Sa'adah- berkata: "Tatkala syubhat-syubhat begitu banyak bertumpuk di depan diriku, dan tatkala keinginan-keinginan (tidak baik) berdatangan kepadaku, aku adukan semuanya ini kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah". [5]

Jadi, ketika syubhat-syubhat muncul, pada saat itu muncul pula kegelapan. Lalu dengan adanya ilmu, datanglah cahaya terang.

Syubhat-syubhat telah mendatangi seorang murid ini (al Imam Ibnul Qayyim). Lantas ia pun segera bergegas menuju gurunya untuk belajar, meminta fatwa dan penjelasan tentang al haq dari gurunya.

Ia berkata, "Aku pun pergi kepada Syaikh kami, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Lalu aku beritahu beliau tentang syubhat-syubhat dan keinginan-keinginan (buruk) ini. Beliau berkata kepadaku,'Jadikan hatimu seperti cermin; jika datang syubhat kepadamu, syubhat tersebut akan kembali berbalik kepada orang yang melontarkan dan mengatakannya. Dan jangan jadikan hatimu seperti busa; jika datang syubhat kepadamu, ia akan menyerap dan menelannya'."

Demikianlah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menasehati muridnya, hingga al Imam Ibnul Qayyim pun berkata: "Demi Allah, aku belum pernah mendapatkan manfaat setelah aku masuk Islam dari sebuah wasiat dan nasihat seperti manfaat (yang aku dapatkan) pada wasiat dan nasihat ini". [6]

Inilah yang ingin saya jelaskan kepada saudara-saudaraku semuanya sebagai permulaan dan mukadimah. Berikut ini penjelasannya.

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XI/1428H/2007M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Almat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp. 0271-5891016]
________
Footnote
[1]. Yang disampaikan sebelumnya oleh Syaikh Salim bin Id Al-Hilali -hafizhahullah-
[2]. HR Abu Dawud (3/305 no. 3597), Ahmad (2/82), dan lain-lain, dari hadits 'Abdullah bin 'Umar c , dan ini lafazh dalam Sunan Abi Dawud. As-Silsilah ash-Shahihah (1/798 no. 437).
[3]. HR al Bukhari (5/1976, 2253 no. 4849 dan 5717, 6/2474 no. 6345), Muslim (4/1985 no. 2563), dan lain-lain, dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu.
[4]. HR al Bukhari (1/14 no. 13), Muslim (1/67, 68 no. 45), dan lain-lain, dari hadits Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu.
[5]. Syaikh Ali bin Hasan -hafizhahullah- membawakan perkataan al Imam Ibnul Qayyim ini secara makna. Lihat Miftahu Daris-Sa'adah (1/442-443).
[6]. Perkataan Syaikhul Islam dan al Imam Ibnul Qayyim ini pun dibawakan Syaikh Ali bin Hasan -hafizhahullah- secara makna. Kemudian beliau mengomentari wasiat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ini dan berkata: "Kata-kata yang sudah sepantasnya ditulis dengan air mata, karena begitu agungnya. Maka, hafalkanlah!" Lihat catatan kaki dalam tahqiq beliau terhadap kitab ini, Miftahu Daris-Sa'adah (1/443).

Bismillaahirrahmaanirrahiim Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga dicurahkan kepada Rasul termulia, juga kepada seluruh keluarga dan shahabatnya. Amma ba'du. Website almanhaj.or.id adalah sebuah media dakwah sangat ringkas dan sederhana, yang diupayakan untuk ikut serta dalam tasfiyah (membersihkan) umat dari syirik, bid'ah, serta gerakan pemikiran yang merusak ajaran Islam dan tarbiyah (mendidik) kaum muslimin berdasarkan ajaran Islam yang murni dan mengajak mereka kepada pola pikir ilmiah berdasarkan al-Qur'an dan as-Sunnah dengan pemahaman Salafush Shalih. Kebenaran dan kebaikan yang anda dapatkan dari website ini datangnya dari Allah Ta'ala, adapun yang berupa kesalahan datangnya dari syaithan, dan kami berlepas diri dari kesalahan tersebut ketika kami masih hidup ataupun ketika sudah mati. Semua tulisan atau kitab selain Al-Qur'an dan As-Sunnah yang shahihah dan maqbul, mempunyai celah untuk dikritik, disalahkan dan dibenarkan. Barangsiapa yang melihat adanya kesalahan hendaknya meluruskannya. Hati kami lapang dan telinga kami mendengar serta bersedia menerima. Semoga Allah menjadikan upaya ini sebagai amalan shalih yang bermanfaat pada hari yang tidak lagi bermanfaat harta dan anak-anak, melainkan orang yang menemui Rabb-nya dengan amalan shalih. Jazaakumullahu khairan almanhaj.or.id Abu Harits Abdillah - Redaktur Abu Khaulah al-Palimbani - Web Admin