Kategori Propaganda Sesat

Wanita Di Saudi Arabia

Selasa, 27 Februari 2007 16:07:11 WIB



Halaman ke-3 dari 3


D. KONTRADIKSI ADAB
Abdul Muqsith berkata, "Tak terjaga, saya membaca dalam kitab ini bagaimana seorang beriman bisa menyatakan si Jompo si Nuriyah Abdur Rahman Wahid. Seorang beriman tidak mungkin bisa mengeluarkan kata ini. Itu kalau Pak Hartono masih percaya kepada Alloh dan Rasul. Kecuali kalau Pak Hartono mengambil pilihan untuk tidak percaya alias murtad."

Ulil menambahkan, "Kalau Saudara Ahmad Jaiz ini, Ahmad yang boleh-boleh saja, jaiz `kan boleh-boleh saja, Hartono Ahmad Jaiz boleh-boleh saja. Menurut Ahmad Hartono tadi, menyebut Ibu Sinta Nuriyah, isterinya Gus Dur yang jompo itu, itu jelas masuk dalam kategori ayat:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-ngolokkan kaum yang lain, boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari yang mengolok (Al-Hujurat: 11) Enggak boleh kita menyebut-nyebut dengan jelek sesama muslim meskipun berbeda pendapat. Kalau saudara kita yang Wahabi ini mengatakan bahwa ada akhlaq syar'i, apakah itu bukan akhlaq syar'i?! Menyebut seorang muslimah dengan sebutan yang merendahkan. Itulah sebetulnya yang saya kritik."

JAWABAN
[1]. Senjata Penentang Dakwah
Saya lebih memilih kritikan di atas daripada kritikan lainnya, sebab menurut penilaian saya bahwa kritikan ini perlu mendapatkan perhatian khusus dari lainnya, sebab masalah adab dan tata karma adalah senjata yang sering dihunuskan oleh para penentang dakwah sekarang ini, lebih jelas lagi kalau kita perhatikan ucapan Ulil yang telah lalu. Katanya, "Saya teringat dengan komentar yang terhormat Dr. Quraish Shihab, beliau mengatakan bahwa salah satu kekurangan -dengan penuh penghormatan kepada Pak Hartono dan kawan-kawannya- ada sedikit kekurangan, yaitu adab, tata krama dalam berdebat, menggunakan kata-kata kasar, suka memurtadkan orang, suka mengkafirkan."

[2].Kontradiksi
Tetapi saya pribadi menilai bahwa kritikan dua orang di atas (Ulil Abshar Abdalla dan Abdul Muqsith) hanyalah lari dari inti pokok permasalahan dan mencari-cari celah kesalahan untuk membela diri dan menjatuhkan lawan. Sebab kalau kita perhatikan adab mereka, ternyata amat jauh dari adab Islami. Sungguh tepat sekali firman Alloh:

Mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebaikan sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri. [Al-Baqarah : 44]

Agar lebih jelas masalah ini maka perhatikanlah keterangan berikut:

[a]. Mengubah Kata
Menurut jawaban Ust. Hartono bahwa tuduhan Abdul Muqsith kalau dirinya mengatakan Siti Nuriyah dengan kata "si Jompo" adalah sebuah penyelewengan kata. Teks yang benar adalah "yang sudah jompo" (lihat bukunya hal. 106). Sedangkan kita -orang Indonesia- tahu semua bahwa antara dua kata tersebut ada perbedaan yang sangat tajam.

Sekarang katakanlah padaku, apakah perbuatan semacam ini termasuk adab Islami?! Mengubah ucapan orang dan melemparkan tuduhan?! Lantas siapakah yang pantas disebut manusia beradab, wahai saudaraku?!

Faedah
Termasuk juga kebohongan Abdul Muqsith yang harus kita bongkar di sini, adalah ucapannya tentang nikah beda agama, "Kalau di dalam al-Qur' an diperbolehkan nikah beda agama, maka Pak Hartono mengharamkannya. Pak Hartono di sini sedang menciptakan syari'at baru, yang mestinya itu tidak dilakukan." Lalu dia menukil atsar Umar yang menegur Hudzaifah tatkala menikah dengan wanita ahli kitab, lalu Hudzaifah berkata, "Apakah engkau mengharamkannya?"Jawab Umar, "Tidak." [Buka Mafatihul Ghaib juz 3 hal. 63]

Dia juga mengatakan, "Tidak ada dalil yang melarang nikah beda agama." Saya berkata, ucapan ini adalah kebohongan di atas kebohongan.

Pertama: Kebohongan terhadap al-Qur'an. Karena al-Qur' an tidak pernah membolehkan nikah beda agama dalam artian seorang laki-laki non muslim menikahi wanita muslimah, bahkan al-Qur'an dengan tegas mengharamkannya (lihat Al-Baqarah : 221 dan Al-Mumtahanah: 10). Yang dibolehkan, lelaki muslim menikahi wanita ahli kitab [Al-Ma'idah : 5]

Kedua: Kebohongan terhadap Umar bin Khaththab karena beliau juga mengharamkan nikah beda agama, sebagaimana diriwayatkan Ibnu Jarir dalam Tafsirnya (4/366) bahwa Umar berkata, "Lelaki muslim boleh menikah dengan wanita Nasrani, tetapi lelaki Nasrani tidak boleh menikah dengan wanita muslimah." Lalu Ibnu Jarir berkata, "Atsar ini lebih shahih dari atsar sebelumnya (kisah Hudzaifah)." [Lihat pula Tafsir Ibnu Katsir 1/587]

Ketiga: Kebohongan terhadap Fakhrur Razi dalam Mafatihul Ghaib, sebab beliau juga mengharamkan nikah beda agama. Setelah membawakan atsar Hudzaifah di atas dalam Tafsirnya 2/231, beliau mengiringinya langsung dengan hadits Jabir bahwa Nabi bersabda, "Kita boleh menikah dengan wanita ahli kitab, tetapi mereka tidak boleh menikah dengan wanita kita."[8]

Lebih jelas lagi, beliau mengatakan dalam lembar berikutnya (2/232), "Adapun firman Alloh `Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman' tidaklah ada perselisihan bahwa maksud musyrik di sini adalah umum (baik ahli kitab maupun bukan). Maka, tidak halal wanita mukminah dinikahkan dengan pria kafir sama sekali, apa pun jenis kekufurannya."

Wahai hamba Alloh! Mengapa engkau sembunyikan ucapan ini?! Di manakah kejujuranmu?!

[b]. Inshaf dan Keadilan
Masih menurut pengakuan Ust. Hartono bahwa dirinya tidaklah bermaksud menjelekkan dengan kata tersebut tetapi hanya menceritakan keadaan, sebagaimana hal itu adalah hasil pengalamannya sebagai wartawan. Dengan demikian, kita tidak bisa menghukuminya masuk dalam kategori celaan yang dimaksud dalam surat Al-Hujurat : 11, sebab para ulama menerangkan bahwa larangan tersebut apabila maksud orang yang melontarkannya adalah mencela atau orang yang disifati tersebut tidak ridha dengannya. [Lihat Tafsir al-Qurthubi 16/329, Muqaddimah Nuzhatul Albab fil Alqab oleh Ibnu Hajar, Bahjatun Nazhirin oleh Salim al-Hilali 3/49]

Bukankah dalam ayat Al-Qur'an juga disebutkan: Karena telah datang seorang yang buta kepadanya. [Abasa : 2]

Aisyah juga berkata tentang Saudah, "Dia adalah seorang wanita yang besar dan gemuk badannya." (HR. Muslim 294). Abdullah bin Sarjis berkata, "Saya melihat ashla' (seorang yang botak) Umar bin Khaththab." (HR. Muslim 250). Dan lain contoh yang banyak sekali Abu Hatim Ar-Razi berkata, "Menceritakan kami Abadah bin Abdur Rahim, `Saya bertanya kepada Abdullah bin Mubarak tentang ucapan seorang, `Humaid ath-Thawil (tinggi), Humaid al-A'raj (pincang),' maka dia menjawab, `Apabila dia bermaksud untuk mensifati kedaannya dan tidak bermaksud mencelanya maka tidak apa-apa. " [Muqaddimah Nuzhatul Albab]

Sekalipun dengan inshaf dan adil tetap saya katakan: Alangkah baiknya bila kata tersebut (yang telah jompo) ditinggalkan, agar tidak menimbulkan fitnah, apalagi tidak ada kebutuhan yang mendesak untuk mensifatinya dengan kata tersebut. Wallohu A'lam.

[c]. Senjata Makan Tuan
Aneh, mengapa kita jauh-jauh mengkritik orang lain, tetapi lupa terhadap diri kita sendiri?! Bukankah Ulil berkata, "Dalam sejarah Islam ada dua kelompok yang menimbulkan keributan dalam Islam .... Yang kedua : Salah satu kelompok yang berbahaya; yang menimbulkan kerusakan buat Islam adalah orang yang disebut sebagai Hasyawiyun [9], artinya orang-orang pinggiran, orang-orang yang tidak mengerti agama sebetulnya, yang biasanya hanya bermodal satu dua hadits, ayat Qur'an, kemudian dengan mudah menuduh orang yang berbeda pendapat kafir. Saya khawatir mas Hartono ini versi modern dari orang-orang Hasyawiyin."

Dia juga mengatakan, "Itulah cerminan Wahabi, dangkal, mengingkari akal, sedikit-sedikit Al-Qur'an dan Hadits", "Tadi teman kita yang Wahabi ini." "Menurut Hartono Ahmad Jaiz, Ahmad yang boleh-boleh saja." Lebih ngeri lagi ucapan Ulil menanggapi 11 keputusan fatwa MUI [10], "Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) itu sangat konyol, tidak masuk akal, dan tolol." [Majalah Cahaya Nabawi edisi 33/Th. III Sya'ban 1426 H/hal. 50]

Maka pikirkankanlah sendiri, wahai saudara pembaca, betapa terbaliknya orang ini!! Wallohul Musta'an.

[3]. Luasnya Adab
Harus kita pahami bahwa adab tidaklah terbatas pada hubungan antara sesama manusia, karena adab mempunyai ruang lingkup yang luas, meliputi adab terhadap Alloh, rasulNya, dan sesama manusia. [Lihat Madarijus Salikin oleh Ibnu Qayyim, 2/427-448]

Maka khabarkanlah padaku, apakah termasuk adab kepada Alloh ucapan Abdul Muqsith, "Anjing akbar, tidak ada yang salah dengan pernyataan itu. Apa yang salah, sama sekali tidak ada yang salah. Itu kalau diniati anjing itu adalah Alloh." "Syari'at Muhammad tidak sempurna." Dan ucapan Ulil, "Tidak ada hukum Tuhan", "Khamr bisa jadi halal di Rusia karena udaranya dingin sekali", "Semua agama benar"? !

Anggaplah Ust. Hartono salah ketika menyebut istri Gus Dur dengan "yang telah jompo" tetapi apabila dibandingkan dengan ucapan-ucapan kufur yang keji dan kotor di atas, manakah yang jauh lebih tidak beradab, wahai hamba Alloh? ! Oleh karena itu, dapat kita simpulkan bahwa kedua orang tersebut, Ulil Abshar Abdalla dan Abdul Muqsith, adalah manusia tidak beradab dan sangat jauh dari adab Islami.

[4]. Barometer Adab
Nampaknya, timbangan adab yang dipakai oleh Ulil dan kawannya adalah timbangan adab yang keliru, sehingga dalam pandangannya adab adalah toleransi terhadap sesama, termasuk kepada non muslim dan ahli bid'ah. Kalau timbangan Ulil seperti ini, berarti dia lebih beradab daripada Rasulullah, sahabatnya, dan para ulama, sebab Alloh berfirman: Muhammad itu adalah utusan Alloh dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. [Al-Fath: 29]

Akankah kita katakan bahwa Nabi dan para sahabatnya tidak beradab, lantaran keras terhadap orang-orang kafir?! Perhatikan pula ucapan Imam Syafi'i tatkala bersikap keras terhadap ahli kalam/filsafat semacam Ulil, "Hukumanku bagi ahli kalam adalah dipukul dengan pelepah kurma dan sandal, sembari diarak keliling seraya dikatakan kepada khayalak: Inilah hukuman orang yang berpaling dari Al-Qur'an dan Sunnah menuju ilmu kalam." (Majmu' Fatawa 4/ 298). Akankah kita katakan. Imam Syafi'i tidak beradab lantaran keras terhadap ahli filsafat?!

Akhirnya, kita berdo'a kepadaAlloh agar memberikan hidayah kepada kita semua dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang diselamatkan dari fitnah syubhat dan syahwat. Amiin.

[Disalin dari majalah Al Furqon, Edisi : 6 Tahun V/Muharram 1427/Februari 2006. Penerbit Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon, Alamat : Maktabah Ma’had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jatim]
__________
Foote Note
[1]. Ini adalah suatu kekeliruan, sebab Imam Bukhari tidak meriwayatkannya, sebagaimana akan datang penjelasan
[2]. Meminjam ucapan Abdul Muqsith Ghazali, M.A. -dengan sedikit penyesuaian kawan dialog Ulil Abshar tatkala mengkritik Ust. Hartono Ahmad Jaiz.
[3]. Sebenarnya banyak sekali point-point lain untuk membantah syubhat ini. Lihat secara panjang lebar bantahannya dalam kitab Ihtimam al-Muhadditsin bi Naqdil Hadits Sanadan wa Matan wa Dahdzi Maza'im al-Mustasyriqin wa Atbaa'ihim (Upaya Ahli Hadits Dalam Ktitik Sanad dan Matan, Serta Bantahan Terhadap Tuduhan Para Orientalis dan Antek-Anteknya) oleh Dr. Muhammad Luqman as-Salafi.
[4]. Dinukil dari Jinayah Syaikh al-Ghazali, Asyraf bin Abdul Maqsudh (hal. 283-284) dan Ahkam Sutrah oleh Muhammad bin Rizq Thurhuni.
[5]. Al-Hafizh Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata, "Telah shahih dari Nabi bahwa beliau bersabda, `Shalatseorang batal bila lewat di depannya wanita, himar, dan anjing.' Hal itu shahih diriwayatkan dari jalur Abu Dzar, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, dan Abdullah bin Mughaffal. Yang menyelisihi hadits ini ada dua kemungkinan; shahih tapi tidak sharih (tidak jelas) atau sharih (jelas) tapi tidak shahih. Maka tidak boleh kita meninggalkan hadits shahih hanya karena dalil yang seperti ini keadaannya." [Zadul Ma'ad 1/296]
[6]. Lihat tulisan Ustadzuna Abu Aisyah -hafizhahulloh- "Kedudukan Akal Dalam Islam" dalam Majalah AL FURQON Edisi 4/Thn. IV
[7]. Lihat fatwa-fatwa para ulama: Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Syaikh Ibnu Utsaimin, Syaikh Shalih al-Fauzan, dan lain-lain tentang masalah ini dalam Fiqh Nawazil (3/363-369) oleh Dr. Muhammad bin Husain al-Jizani dan buku Qiyadah Sayyarah lil Mar'ah oleh Amir Nayif bin Abdul Aziz.
[8]. Ibnu Jarir berkata dalam Tafsirnya (4/367), "Sanad hadits ini, sekalipun ada pembicaraan, namun kebenaran isinya merupakan ijma' umat." Dan dinukil Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya (1/587). [9]Imam Abu Hatim ar-Razi berkata, "Tanda-tanda ahli bid' ah adalah mencela ahli atsar (orang-orang yang mengikuti dalil). Dan tanda orang-orang zindiq adalah menggelari ahli atsar dengan Hasyawiyah, mereka menginginkan untuk menolak atsar/dalil " [Aqidah Salaf Ashhabul Hadits hal. 304]
[10]. Fatwa yang paling membuat kordinator JIL ini `kebakaran jenggot' adalah masalah pengharaman atas aliran Ahmadiyah, haramnya nikah beda agama, serta haramnya pemikiran liberalisme, sekulerisme, dan pluralisme.

prev 1 2 3 

Bismillaahirrahmaanirrahiim Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga dicurahkan kepada Rasul termulia, juga kepada seluruh keluarga dan shahabatnya. Amma ba'du. Website almanhaj.or.id adalah sebuah media dakwah sangat ringkas dan sederhana, yang diupayakan untuk ikut serta dalam tasfiyah (membersihkan) umat dari syirik, bid'ah, serta gerakan pemikiran yang merusak ajaran Islam dan tarbiyah (mendidik) kaum muslimin berdasarkan ajaran Islam yang murni dan mengajak mereka kepada pola pikir ilmiah berdasarkan al-Qur'an dan as-Sunnah dengan pemahaman Salafush Shalih. Kebenaran dan kebaikan yang anda dapatkan dari website ini datangnya dari Allah Ta'ala, adapun yang berupa kesalahan datangnya dari syaithan, dan kami berlepas diri dari kesalahan tersebut ketika kami masih hidup ataupun ketika sudah mati. Semua tulisan atau kitab selain Al-Qur'an dan As-Sunnah yang shahihah dan maqbul, mempunyai celah untuk dikritik, disalahkan dan dibenarkan. Barangsiapa yang melihat adanya kesalahan hendaknya meluruskannya. Hati kami lapang dan telinga kami mendengar serta bersedia menerima. Semoga Allah menjadikan upaya ini sebagai amalan shalih yang bermanfaat pada hari yang tidak lagi bermanfaat harta dan anak-anak, melainkan orang yang menemui Rabb-nya dengan amalan shalih. Jazaakumullahu khairan almanhaj.or.id Abu Harits Abdillah - Redaktur Abu Khaulah al-Palimbani - Web Admin