Kategori Propaganda Sesat
Wanita Di Saudi Arabia
Selasa, 27 Februari 2007 16:07:11 WIB
Halaman ke-1 dari 3WANITA DI SAUDI ARABIA
Oleh
Ustadz Abu Ubaidah Al-Atsari
Telah sampai khabar kepada kami adanya perdebatan seru antara JIL (Jaringan Islam Liberal) dengan Ahli Sunnah wal Jama'ah. Mendengarnya, kami pun tertarik untuk mengetahuinya. Alhamdulillah, keinginan mendapatkan VCD perdebatan tersebut terwujud.
Seperti orang yang disambar petir, rasanya jantung ini hampir copot dan telinga pun terasa gatal mendengarkan ucapan-ucapan kotor dari para propagandis JIL. Betapa derasnya ilmu filsafat dan tasawuf yang menyesatkan terlontar. kontradiksi ucapan, pelecehan, celaan, kebohongan, ketimpangan pemikiran, dan sebagainya. Sungguh betul- betul dibutuhkan kesabaran yang sangat luar biasa untuk menyimaknya!
Dengan selalu berdo' a kepada Alloh agar selalu meneguhkan hati ini, kami tuntaskan `proses' menyaksikan perdebatan seru antara JIL dan Ahli Sunnah wal Jama' ah. Kendati tayangan sudah berlalu, masih terngiang-ngiang di telinga sebagian syubhat mereka. Namun aku pun berbaik sangka, barangkali inilah PR buatku untuk turut berpartisipasi dalam membela agama dan membantah ucapan para penyeleweng agama. Sekaligus sebagai keterangan bagi saudara-saudari kami yang mungkin telah tertipu dengan silat lidah mereka.
Maka, dengan memohon pertolongan kepada Alloh, aku bertawakkal untuk menulis artikel ini. Semoga Alloh memberikan hidayah kepada kita semua dan meneguhkan kita di atas jalan yang diridhai-Nya.
Sebenarnya banyak sekali permasalahan yang harus dikupas dan dibahas, tetapi semaga saja yang sedikit ini cukup untuk mewakili syubhat-syubhat lainnya. Yang penting, bentengilah diri kita dengan ilmu yang berlandaskan al-Qur'an dan Sunnah ; sehingga kita dapat terselamatkan dari berbagai syubhat yang banyak menyerang pada zaman ini.
Ingatlah selalu nasihat berharga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, "Janganlah engkau jadikan hatimu terhadap syubhat seperti spon (karet busa) yang menyerapnya serta merta: Tetapi jadikanlah hatimu seperti kaca yang kuat, . sehingga tatkala syubhat mampir padanya, dia dapat melihat dengan kejernihannya dan mengusir dengan kekuatannya. Tetapi apabila engkau jadikan hatimu menyerap setiap syubhat, maka dia akan menjadi sarang syubhat:" (Miftah Dar as- Sa'adah oleh Imam Ibnul Qayyim, l/443) Ulil Abshar Abdalla, koordinator JIL-semoga Alloh memberinya hidayah dan menyelamatkan manusia dari kesesatannya- mengatakan, "Tadi, Saudara Ahmad Hartono menyebut berkali-kali dasarnya adalah hadits, hadits, hadits, hadits. Oke, hadits, pendapat saya adalah; hadits yang shahih sanadnya belum tentu harus diikuti di sini. Itu pendapat saya. Saudara-saudara, dengarkan pendapat saya!"
Lanjutnya, "Saudara-saudara, di dalam ilmu hadits, yang berkembang pesat itu adalah ilmu yang berkaitan dengan verifikasi sanad, kritik atas sanad. Tetapi kritik atas matan tidak berkembang dengan pesat, karena orang Islam takut mengkritik matan. Menurut saya, jika hadits walaupun shahih sanadnya, bisa dikritik isinya. Ada contoh misalnya, hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, shahih di dalam Bukhari [1] ; bahwa shalat seorang itu batal kalau di depannya lewat tiga hal: perempuan, himar, dan yang satu lagi adalah anjing."
Lanjutnya lagi, "Gimana anda bisa membayangkan agama Islam yang kita hargai ini mengatakan shalat kita batal kalau di depan kita lewat perempuan, anjing atau himar. Perempuan disetarakan dengan anjing dan himar saudara-sauadara! Inilah yang terjadi di Saudi Arabia, negeri Wahabi itu. Karena perempuan dianggap hewan, tidak boleh nyetir mobil. Itulah negeri Saudi Arabia, apakah negeri semacam ini akan anda ikuti saudara-saudara?! [VCD "Debat Terbuka (membahas) Buku Ada Pemurtadan di IAIN"]
A. MUQADDIMAH
Sebelum kita memasuki topik bahasan, saya merasa perlu memberikan muqaddimah sebagai jembatan menuju pembahasan sekaligus sanggahan terhadap kaidah-kaidah rapuh Ulil di atas:
[1]. Melecehkan Hadits
Abu Nashr bin Salam al-Faqih berkata, "Tidak ada sesuatu pun yang paling berat dan dibenci oleh ahli ilhad (penyeleweng agama) daripada mendengar hadits serta meriwayatkan dengan sanadnya." [Aqidah Salaf Ashhabul Hadits oleh ash-Shabuni, hal. 302]
Saudaraku, bandingkan ucapan di atas dengan ucapan Ulil, "Tadi, saudara Ahmad Hartono menyebut berkali-kali dasarnya adalah hadits, hadits, hadits, hadits." Bukankah ucapan ini menunjukkan keberatannya membaca dan mendengar hadits Nabi?!
[2]. Tanyakanlah Keislamannya!
Imam Ahmad Rahimahullah berkata, "Barangsiapa menolak hadits Rasulullah maka dia berada di atas jurang kehancuran." [Manaqib Imam Ahmad oleh Ibnul Jauzi, hal. 235]
Ibnul Wazir berkata, "Sesungguhnya mendustakan hadits Rasulullah padahal dia mengakui keabsahannya merupakan kekufuran yang nyata." [Al-Awashim wal Qawashim 2/374]
Imam al-Barbahari berkata, "Apabila engkau mendengar seorang mencela hadits dan tidak menerimanya atau mengingkari sebagian darinya, maka curigailah keislamannya dan jangan ragu-ragu bahwa dia adalah seorang pengekor hawa dan ahli bid'ah:" [Syarhus Sunnah hal. 35; 51]
Saya memikirkan ucapan Ulil ini, bagaimana seorang beriman bisa mengatakan ucapan keji seperti itu. Seorang beriman tidak mungkin bisa mengeluarkan kata-kata itu. Itu kalau Ulil masih percaya kepada Alloh dan Rasul. Kecuali kalau Ulil mengambil pilihan untuk tidak percaya alias murtad.[2]
[3]. Beradablah Terhadap Hadits!
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah Rahimahullah berkata tatkala menjelaskan adab terhadap Rasulullah Shallallahu'alaihi wa salam "Adab yang paling utama terhadap beliau adalah kesempurnaan pasrah kepadanya, patuh terhadap perintahnya, menerima dan membenarkan sabdanya tanpa mempertentangkannya dengan akal dan keraguan atau mendahulukan pendapat orang lain di atasriya." [Madarijus Salikin 2/439]
Apabila Ulil sering mengkritik lawan debatnya dengan kurang adab dan tata krama, apakah dia menganggap dirinya seorang yang beradab?! Katakanlah padaku, seperti itukah adab seorang muslim terhadap Rasulullah dan haditsnya?!
[4]. Siapakah Ulama Panutannya
Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah berkata, "Janganlah engkau berucap dalam sebuah masalah yang engkau tidak mempunyai imam dalam masalah tersebut." [Manaqib Imam Ahmad hal. 178]
Bila Ulil mengatakan, "... Saya khawatir kalau Mas Hartono ini versi modern dari orang-orang Hasyawiyin. Lihat bukunya ini, semuanya kutipan al-Qur'an dan Hadits. Itu ciri khas orang-orang dari pihak sana, sedikit sekali membaca pendapat ulama."
Apakah Ulil menganggap dirinya banyak membaca pendapat ulama?! Khabarkanlah padaku, ulama siapakah yang berucap seperti ucapan kotor anda tersebut?! Mengapa anda tidak berterus-terang menyebutkannya?! Saya harap anda tidak menyebut guru-guru anda yang orientalis atau rasionalis!
[5]. Racun Pemikiran Orientalis
Imam Ibnu Sirin Rahimahullah berkata, "Sesungguhnya ilmu ini termasuk agama, maka lihatlah kepada siapakah kalian menimba ilmu." [Muqaddimah Shahih Muslim]
Sekarang perhatikanlah bersamaku ucapan Ulil di atas "Di dalam ilmu hadits, yang berkembang pesat itu adalah ilmu yang berkaitan dengan verifikasi sanad, kritik atas sanad. Tetapi kritik atas matan tidak berkembang dengan pesat, karena orang Islam takut mengkritik matan". Tahukah anda dari manakah dia menimba pemikiran ini?! Ini adalah pemikiran para orientalis Yahudi pendengki yang berusaha merusak agama Islam. Hal itu tidak aneh, lantaran sang pelontarnya terkenal telah dicekoki pemikiran dari sana.
Sesungguhnya ucapan ini menunjukkan kejahilan dan kesombongannya. Saya katakan jahil, karena pelontarnya berarti tidak mengerti ilmu hadits, bahkan definisi ilmu hadits saja tidak mengerti. Seandainya dia membuka buku ilmu musthalah hadits di mana pun berada, niscaya dia akan mendapati dalam pembukaannya bahwa ilmu ini adalah "undang- undang untuk mengetahui keadaan sanad dan matan dari segi shahih dan tidaknya". (Tadrib Rawi 1/41 oleh as-Suyuthi). Adakah anda mendapati seorang ahli hadits yang mendefinisikannya dengan ilmu yang berkaitan dengan keadaan sanad semata, tanpa matan (isinya)?!
Bukankah para ulama hadits telah mensyaratan hadits shahih atau hasan harus selamat dari syadz dan illat?!. Lalu, tatkala kita buka penjelasan mereka, ternyata mereka menjelaskan bahwa syadz dan illat itu terbagi menjadi dua macam, dalam sanad dan matan?! Apakah hal ini tidak menunjukkan perhatian mereka terhadap matan?! Demikian juga para ulama menulis tentang gharib hadits, mukhtalaf hadits, nasikh mansukh, bukankah semua itu menunjukkan perhatian mereka tentang matan wahai hamba Allah?![3] Fa'tabir ya Ulil Abshar!
Adapun kesombongannya, hal itu nampak dalam ucapannya "Karena umat Islam takut mengkritik matan". Lalu dia menganggap dirinya seorang pendekar yang berarii mengkritik matan hadits. Seperti inikah adab seorang yang mengaku beradab terhadap para ulama ahli hadits, bahkan kepada umat Islam? !
1 2 3 next
