Kategori Puasa : I'tikaaf
Kamis, 27 Oktober 2005 17:17:15 WIB
Menurut jumhur ulama, tidaklah akan sah bagi seorang wanita beri'tikaaf di masjid rumahnya sendiri, karena masjid di dalam rumah tidak bisa dikatakan masjid, lagi pula keterangan yang sudah sah menerangkan bahwa para istri Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan i'tikaaf di Masjid Nabawi. Tentang wanita yang beri'tikaaf di masjid diharuskan membuat kemah tersendiri dan terpisah dari laki-laki, sedangkan untuk masa sekarang harus dipikirkan tentang fitnah yang akan terjadi bila para wanita hendak i'tikaaf, yaitu terjadinya ikhtilath dengan laki-laki di tempat yang semakin banyak fitnah. Adapun soal bolehnya, para ulama membolehkan namun diusahakan untuk tidak saling pandang antara laki-laki dan wanita.
Rabu, 26 Oktober 2005 06:43:06 WIB
I'tikaaf yang wajib, dilakukan sesuai dengan apa yang telah dinadzarkan dan di-iqrar-kan seseorang, maka jika ia bernadzar akan beri'tikaaf satu hari atau lebih, hendaklah ia penuhi seperti yang dinadzarkan itu. Adapun i'tikaaf yang sunnat, tidaklah terbatas waktunya. Imam asy-Syafi'i, Imam Abu Hanifah dan kebanyakan ahli fiqh berpendapat bahwa i'tikaaf yang sunnat tidak ada batasnya. Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata, "Boleh seseorang beri'tikaaf siang saja atau malam saja. Ini merupakan pendapat Imam asy-Syafi'i dan Abu Sulaiman". Menurut Ibnul Qayyim: "Puasa sebagai syarat sahnya i'tikaaf dan ini merupakan pendapat jumhur (mayoritas) ulama Salaf". Dan pendapat ini dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
Selasa, 25 Oktober 2005 05:58:52 WIB
Hukum i'tikaaf ada dua macam, yaitu: Sunnat dan Wajib. I'tikaaf sunnat ialah yang dilakukan oleh seseorang dengan sukarela dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah dan mengharapkan pahala daripada-Nya serta mengikuti Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di sepanjang tahun. I'tikaaf seperti ini sangatlah ditekankan. I'tikaaf yang sunnah ini tidak boleh ditetapkan 1 hari atau 3 hari secara rutin kecuali yang ditetapkan syari'at. I'tikaaf yang paling utama adalah yang dilakukan pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pada setiap bulan Ramadhan sampai beliau Shallallahu alaihi wa sallam wafat.
Selasa, 25 Oktober 2005 05:52:22 WIB
Allah Azza wa Jalla juga mensyari'atkan i'tikaaf bagi mereka, yang maksud dan ruhnya adalah keteguhan hati kepada Allah Azza wa Jalla semata serta kebulatannya hanya kepada-Nya, berkhulwat kepada-Nya, dan memutuskan diri dari kesibukan duniawi, serta hanya menyibukkan diri beribadah kepada Allah Azza wa Jalla semata. Di mana, dia menempatkan dzikir, cinta, dan menghadapkan wajah kepada-Nya di dalam keinginan dan lintasan-lintasan hati, sehingga semua itu menguasai perhatiannya. Selanjutnya, keinginan dan detak hati hanya tertuju kepada dzikir kepada-Nya serta tafakkur untuk mendapatkan keridhaan-Nya serta mengerjakan apa yang mendekatkan diri kepada-Nya, sehingga keakrabannya hanya kepada Allah.
Minggu, 23 Oktober 2005 23:00:34 WIB
Para ulama sepakat bahwa i'tikaaf disyari'atkan dalam agama Islam pada bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya dan i'tikaaf yang paling utama adalah pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan. Hal tersebut karena Nabi Shallallahu alaiahi wa sallam selalu mengerjakannya, sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits. Diantaranya "Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, istri Nabi Shallallahu alaiahi wa sallam, ia berkata: "Adalah Nabi Shallallahu alaiahi wa sallam biasa beri'tikaaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, sampai beliau wafat, kemudian istri-istri beliau melaksanakan i'tikaaf sepeninggalnya". "Dari Ibnu 'Umar Radhiyallahu anhuma, ia berkata: "Adalah Rasulullah Shallallahu alaiahi wa sallam biasa i'tikaaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan".
Minggu, 23 Oktober 2005 22:06:16 WIB
Ibadah-ibadah yang diwajibkan dan disunnahkan pada bulan Ramadhan banyak sekali, seperti : Puasa, shalat Tarawih, baca al-Qur'an, shadaqah, memberi makan orang buka puasa, Umrah, mengeluarkan zakat fithrah dan lainnya. Di antara amal yang disunnahkan adalah i'tikaaf. I'tikaaf disunnahkan dilaksanakan setiap waktu, akan tetapi yang utama yaitu di bulan Ramadhan. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam selalu melaksanakan i'tikaaf setiap sepuluh malam yang terakhir di bulan Ramadhan setiap tahunnya sampai beliau meninggal dunia. Kemudian dilanjutkan oleh istri-istrinya sesudah beliau Shallallahu alaihi wa sallam wafat. I'tikaaf harus dilaksanakan di masjid, tidak boleh di tempat lain. Allah memuji orang-orang yang melaksanakan ibadah di masjid.
First Prev 1 2 3 Next Last
