Kategori Mabhats
Rabu, 24 Januari 2007 00:52:28 WIB
Maka berbahagialah bagi seseorang yang dapat mengisi waktunya dengan sesuatu yang dapat mendekatkan dirinya dengan Allah, bebahagialah bagi seseorang yang menyibukkan dirinya dengan ketaatan dan menghindari maksiat. Wahai sekalian manusia, sesungguhnya pada hari ini kamu berpisah dengan tahun yang telah lalu, yang menjadi saksi. Dan kamu akan menyambut tahun yang akan datang, tahun yang baru, maka apakah yang telah kamu tinggalkan untuk tahun kemarin ? Dan dengan apa kamu akan menyambut tahun yang baru ini ? Maka seseorang yang berakal hendaklah menginstropeksi dirinya, dan melihat urusannya. Jika sekiranya dia telah meninggalkan suatu kewajiban, maka segeralah bertaubat dan segeralah untuk memperbaiki apa yang ditinggalkannya. Dan jika dia telah mendhalimi dirinya sendiri dengan melakukan kemaksiatan-kemaksiatan dan hal-hal yang haram segeralah ia meninggalkannya sebelum datangnya kematian.
Selasa, 23 Januari 2007 00:58:35 WIB
Sesungguhnya hari Asyura 10 Muharram meski merupkan hari bersejarah dan diagungkan, namun orang tidak boleh berbuat bid'ah di dalamnya. Adapun yang dituntunkan syariat kepada kita pada hari itu hanyalah berpuasa, dengan dijaga agar jangan sampai tasyabbuh dengan orang Yahudi. "Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, kemudian beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya :"Apa ini?" Mereka menjawab :"Sebuah hari yang baik, ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu sebagai wujud syukur. Maka beliau Rasulullah menjawab :"Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian (Yahudi), maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk pengagungan kami terhadap hari itu."
Rabu, 22 Nopember 2006 02:14:38 WIB
Ibadah itu banyak macamnya. Ia mencakup semua macam keta-atan yang nampak pada lisan, anggota badan dan yang lahir dari hati. Seperti dzikir, tasbih, tahlil dan membaca Al-Qur'an; shalat, zakat, puasa, haji, jihad, amar ma'ruf nahi mungkar, berbuat baik kepada kerabat, anak yatim, orang miskin dan ibnu sabil . Begitu pula cinta kepada Allah dan RasulNya, khasyyatullah (takut kepada Allah), inabah (kembali) kepadaNya, ikhlas kepadaNya, sabar terhadap hu-kumNya, ridha dengan qadha'-Nya, tawakkal, mengharap nikmatNya dan takut dari siksaNya. Jadi, ibadah mencakup seluruh tingkah laku seorang mukmin jika diniatkan qurbah (mendekatkan diri kepada Allah) atau apa-apa yang membantu qurbah. Bahkan adat kebiasaan (yang mubah) pun bernilai ibadah jika diniatkan sebagai bekal untuk taat kepadaNya.
Rabu, 15 Nopember 2006 07:38:21 WIB
Keamanan … dan petunjuk … adalah dua hal yang berdekatan yang tidak dapat dipisahkan jika lenyap salah satu dari keduanya maka lenyaplah yang lain … bahkan jika salah satu dari keduanya tipis maka tipislah yang lain. Maka keamanan yang hakiki … bukanlah dengan banyaknya pasukan dan tentara … dan bukan pula dengan banyaknya penjaga dan senjata … kemanan yang hakiki hanyalah timbul dari jiwa mutma’innah (jiwa yang tenang), jiwa yang meridhai Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul. Maka -kalau begitu- keamanan yang hakiki itu adalah aman dari hal-hal yang menakutkan, aman dari siksa, dan kesengsaraan, serta hidayah, mendapatkan petunjuk kepada jalan yang lurus.
Senin, 28 Agustus 2006 06:52:43 WIB
Interpretasi penulis, bahwasanya Salafiyah adalah bagian dari fase tertentu dan juga bukan kelompok penafsir adalah termasuk penafsiran yang janggal dan bathi. Terlebih lagi, apakah setiap fase waktu tertentu selalu dikatakan sebagai Salafiyah? Tentunya, tidak seorang pun mengatakan demikian, karena tidak lain Salafiyah itu digunakan sebagai istilah bagi kelompok yang beriman, hidup pada masa periode awal dari periode-periode Islam, komitmen dengan Kitabullah dan Sunnah RasulNya, dari kelompok Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang setia mengikuti mereka dengan baik, sebagaimana disifati (dijelaskan) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan perkataannya. “Sebaik-baiknya zaman bagi kalian adalah zaman ku ini, kemudian selanjutnya zaman yang mengikuti mereka, kemudian selanjutnya lagi zaman yang mengikuti mereka….”
Sabtu, 22 Juli 2006 07:26:15 WIB
Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu ketika memberi nasehat kepada Kumail bin Ziyad dengan nasehat yang panjang, di awalnya mengenai macam-macam manusia yang terbagi menjadi tiga kelompok: Ulama rabbani, penuntut ilmu yang menuju jalan keselamatan, dan orang yang hina dan rendah, mereka tidak belajar, lalai terhadap diri mereka sendiri. Kemudian setelah itu beliau menjelaskan tentang keutamaan ilmu dibandingkan harta, lalu menjelaskan macam-macam orang yang memiliki ilmu, tetapi mereka itu orang-orang yang tercela, di antaranya adalah orang-orang yang tunduk kepada ahli kebenaran tetapi ia tidak memiliki bashirah, sedikit saja syubhat datang kepada dia langsung membekas di hatinya, tidak memiliki filter untuk menyaring kebenaran, ia merupakan fitnah bagi orang yang terfitnah disebabkan dia.
First Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Next Last
