Kategori Manhaj
Selasa, 21 Nopember 2006 09:34:50 WIB
Perlu diketahui bahwa Manhaj Rabbani yang abadi yang tertuang dalam uslub Qur'ani yang diturunkan ke hati Penutup Para Nabi tersebut tidak hanya mengajarkan yang haq saja untuk mengikuti jejak orang-orang beriman (sabilul Mu'minin). Akan tetapi juga membuka kedok kebathilan dan menyingkap kekejiannya supaya jelas jalannya orang-orang yang suka berbuat dosa (sabilul Mujrimin) Allah berfirman. "Dan demikianlah, kami jelaskan ayat-ayat, supaya jelas jalannya orang-orang yang suka berbuat dosa". Yang demikian itu karena istibanah (kejelasan) jalannya orang-orang yang suka berbuat dosa (sabilul Mujrimin) secara langsung berakibat pada jelasnya pula sabilul mu'minin. Oleh karena itu istibanah (kejelasan) sabilul Mujrimin merupakan salah satu sasaran dari beberapa sasaran penjelasan ayat-ayat Rabbani.
Rabu, 16 Agustus 2006 10:30:39 WIB
Termasuk diantara aqidah salaf adalah, tidak wajib bagi seorang muslim untuk mengikatkan dirinya kepada madzhab fikih tertentu, dan boleh baginya keluar dari satu madzhab ke madzhab lainnya berdasarkan kekuatan dalil. Tidak ada madzhab bagi orang awam, madzhabnya adalah madzhab muftinya. Bagi penuntut ilmu, jika dia memiliki keahlian dan mampu untuk mengetahui dalil-dalil para imam maka hendaklah ia melakukannya, dan berpindah dari madzhabnya seorang imam dalam suatu masalah kepada madzhab imam lain yang memiliki dalil lebih kuat dan pemahaman lebih rajih di dalam masalah lainnya. Yang demikian ini dikatakan sebagai muttabi’ bukanlah mujtahid, karena ijtihad adalah menggali hukum langsung dari Kitabullah dan as-Sunnah sebagaimana para imam yang empat melakukannya ataupun selain mereka dari para ahi fikih dan ahli hadits.
Minggu, 25 Juni 2006 10:39:09 WIB
Orang-orang yang beriman : Yaitu orang-orang yang benar dalam keimanan mereka, bukan orang yang plin-plan. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam mensifati orang-orang munafik. “Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir) ; tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir). Barangsiapa yang disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya”. Orang yang plin-plan itu wajah dan keadaan mereka tidak diketahui, seperti seekor kambing yang kebingungan ; terkadang berjalan ke arah sini dan terkadang pergi dari sini. Maka seorang mu’min yang benar, tidak mengenal sikap plin-plan dan tidak merubah sikapnya hanya karena dunia telah berubah.
Minggu, 21 Mei 2006 12:40:15 WIB
Persatuan tidak akan terwujud bersamaan dengan (adanya berbagai kelompok) yang memiliki bermacam-macam manhaj dan akidah, sebaik-baik bukti akan hal itu adalah: Keadaan bangsa Arab sebelum diutusnya Rasul shalallahu 'alaihi wasallam, di mana mereka saat itu berpecah-belah dan saling bertengkar, maka setelah mereka masuk Islam dan berada di bawah bendera tauhid, akidah dan manhajnya menjadi, maka bersatulah mereka, dan berdiri tegaklah daulahnya. Sungguh Allah Ta'ala mengingatkan tentang hal itu dengan firman-Nya. "Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu, ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara." Adapun orang-orang yang berusaha menyatukan umat, padahal akidah dan manhajnya bermacam-macam dan berbeda-beda, maka itu adalah (upaya) yang mustahil terwujud.
Rabu, 5 April 2006 11:43:38 WIB
Syaikh Bakar Abu Zaid berkata : ‘Apabila dikatakan As-Salaf atau As-Salafiyun atau As-Salafiyah, ini menisbatkan kepada Salaf As-Shalih, yakni seluruh sahabat Radhiyallahu ‘anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan tanpa condong kepada hawa nafsuinya... Dan orang-orang yang tetap diatas manhaj Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka dinisbatkan kepada Salaf Ash-Shalih. Kepada mereka ditakan As-Salaf, As-Salafiyun. Yang menisbatkan kepada mereka dinamakan Salafi, dan itu wajib baginya. Karena sesungguhnya lafazh Salaf adalah Salafu Ash-Shalih. Lafazh ini secara mutlak, yakni setiap orang yang berteladan kepada sahabat Radhiyallahu ‘anhum. Walaupun dia hidup pada zaman kita ini, harus seperti ini, inilah kalimat ahlu ilmi.
Jumat, 17 Februari 2006 08:56:50 WIB
Sesungguhnya tasfiyah (membersihkan) ajaran Islam dari ajaran-ajaran yang bukan bersumber dari Islam, (baik dalam masalah) aqidah, hukum dan akhlak, merupakan sebuah kewajiban. Agar Islam kembali bersinar, jernih, bersih dan murni sebagaimana yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mentarbiyah (mendidik kembali) generasi muslim di atas agama Islam yang bersih ini dengan tarbiyah (pembinaan) keimanan yang dalam pengaruhnya, semua itu merupakan : Manhaj Dakwah Salafiyah yang selamat, dan kelompok yang mendapat pertolongan Allah dalam (mengadakan) perubahan. Dan dari membaca dalil-dalil dari Kitab, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas akan didapati kewajiban memahami Kitab dan Sunnah dalam naungan pemahaman Salafus Shalih, karena manhaj Salafus Shalih disepakati kebenarannya dalam setiap masa.
First Prev 1 2 3 4 5 6 7 Next Last
