Kategori Aqidah Ahlus Sunnah
Senin, 9 Juli 2007 22:28:28 WIB
Ibnu Abil ‘Izz rahimahullah berkata: “Ketinggian Allah di samping ditetapkan melalui Al-Qur’an dan As-Sunnah ditetapkan pula melalui akal dan fitrah. Adapun tetapnya ketinggian Allah melalui akal dapat ditunjukkan dari sifat kesempurnaan-Nya. Sedangkan tetapnya ketinggian Allah secara fitrah, maka perhatikanlah setiap orang yang berdo’a kepada Allah Azza wa Jalla pastilah hatinya mengarah ke atas dan kedua tangannya menengadah, bahkan barangkali pandangannya tertuju ke arah yang tinggi. Perkara ini terjadi pada siapa saja, yang besar maupun yang kecil, orang yang berilmu maupun orang yang bodoh, sampai-sampai di dalam sujud pun seseorang mendapat kecenderungan hatinya ke arah itu. Tidak seorang pun dapat memungkiri hal ini, dengan mengatakan bahwa hatinya itu berpaling ke arah kiri dan kanan atau ke bawah.”
Selasa, 1 Agustus 2006 15:58:31 WIB
Semua yang disifatkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam hadits-hadits yang shahih, yang telah diterima oleh ahli Ilmu, maka wajib kita mengimaninya. Hukum as-Sunnah sama dengan hukum al-Qur’an dalam menetapkan ilmu, keyakinan, ‘aqidah (i’tiqad), dan amalan, karena as-Sunnah menjelaskan al-Qur’an tentang Nama-Nama Allah dan Sifat-Sifat-Nya menurut hakikatnya yang sesuai dengan keagungan Allah dan Kemuliaan-Nya. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan Allah telah menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) dan Hikmah (as-Sunnah) kepadamu", "Dan Allah telah mengajarkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) dan Hikmah (as-Sunnah).”
Sabtu, 3 Juni 2006 23:43:14 WIB
Hal yang paling besar yang membedakan antara Salaf dengan yang lain dari golongan pelaku bid’ah (ahli bid’ah) adalah, Salaf menghormati dan menjunjung tinggi Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sunnah bagi mereka adalah penjelas, penafsir dan pengurai al-Qur’an, baik dalam bidang aqidah maupun syari’ah. Oleh karena itu, Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengambil lahiriyah hadits, tidak mena’wilkan serta tidak menolaknya dengan argumentasi yang lemah, sebagaimana ahli kalam yang mengatakan, bahwa hadits-hadits itu adalah hadits-hadits Ahad yang tidak bisa untuk dijadikan sebagai dasar ilmu dan keyakinan.
Sabtu, 21 Januari 2006 07:29:04 WIB
Syirik yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam Rububiyyah dan Uluhiyyah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Umumnya menyekutukan dalam Uluhiyyah Allah, yaitu hal-hal yang merupakan kekhususan bagi Allah, seperti berdo'a kepada selain Allah disamping berdo'a kepada Allah, atau memalingkan suatu bentuk ibadah seperti menyembelih (kurban), bernadzar, berdo'a dan sebagainya kepada selainNya. Karena itu, barangsiapa menyembah selain Allah berarti ia meletakkan ibadah tidak pada tempatnya dan memberikannya kepada yang tidak berhak, dan itu merupakan kezhaliman yang paling besar. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman. "Sesungguhnya menyekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar". Allah tidak akan mengampuni orang yang berbuat syirik kepadaNya, jika ia meninggal dunia dalam kemusyrikannya.
Kamis, 24 Nopember 2005 14:35:24 WIB
Sifat Dzaatiyah, ialah sifat yang senantiasa dan selamanya tetap berada pada diri Allah Azza wa Jalla. Seperti: Hayat (hidup), Kalam (berbicara), ‘Ilmu (mengetahui), Qudrah (berkuasa), Iradah (keinginan), Sami’ (pendengaran), Bashar (penglihatan), Izzah (kemuliaan, keperkasaan), Hikmah (kebijaksanaan), ‘Uluww (ketinggian, di atas makhluk), ‘Azhamah (keagungan). Dan termasuk dalam sifat ini adalah sifat Khabariyah seperti adanya wajah, yadain (dua tangan) dan ‘ainan (dua mata). Sifat Fi’liyah, ialah sifat yang terikat dengan masyi’ah (kehendak) Allah Azza wa Jalla. Jika Allah menghendaki, dilakukan-Nya, dan jika tidak, dilakukan-Nya. Seperti; Istiwa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy dan nuzul (turun) ke langit terendah, ataupun datang pada hari Kiamat
Sabtu, 24 September 2005 09:10:25 WIB
Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah: "Manhaj Salaf dan para Imam Ahlus Sunnah mereka mengimani Tauhid al-Asma' wash Shifat dengan menetapkan apa-apa yang Allah telah tetapkan atas diri-Nya dan telah ditetapkan Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk-Nya, tanpa tahrif dan ta'thil serta tanpa takyif dan tamtsil. Menetapkan tanpa tamtsil, menyucikan tanpa ta'thil, menetapkan semua Sifat-Sifat Allah dan menafikan persamaan Sifat-Sifat Allah dengan makhluk-Nya". Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dan Dia-lah Yang Mahamendengar lagi Mahamelihat". Lafazh ayat : "Tidak ada yang serupa denganNya" merupakan bantahan kepada golongan yang menyamakan Sifat-Sifat Allah dengan makhluk-Nya.
First Prev 1 2 3 4 5 6 7 Next Last
